Jumat, 30 November 2012

Anggaran Modal


Anggaran barang modal merupakan anggaran yang digunakan untuk pengadaan aktiva tetap yang berarti akan merinci arus kas masuk dan arus kas keluar untuk jangka waktu tertentu di masa yag akan datang.
Anggaran modal meliputi keseluruhan proses perencanaan pengeluaran uang yang hasil pengembaliannya diharapkan lebih dari satu tahun. Contoh pengeluaran untuk investasi dalam bentuk tanah, bangunan atau mesin dan lain lain.
Manfaat Anggaran Modal
  1. Dana akan terikat untuk jangka waktu yang panjang.
  2. Investasi pada aktiva tetap diharapkan akan meningkatkan penjualan dimasa yang akan datang.
  3. Pengeluaran dana sangat besar dan sulit untuk menjual kembali hasil investasi.
  4. Kesalahan dalam pengambilan keputusan akan berakibat fatal.
Konsep Anggaran Modal
Anggaran modal membantu dalam pengambilan keputusan apakah proyek tersebut diterima atau ditolak. Ada beberapa konsep untuk diperhatikan :
  1. Menentukan investasi awal ( initial outlays ) seperti harga beli mesin.
  2. Menentukan sumber dana yang akan digunakan.
  3. Memperkirakan arus kas dari investasi yang diusulkan.
Arus kas memiliki 2 macam yaitu :
  1. Arus kas masuk
Penerimaan dari penjualan, penerimaan piutang, penerimaan hutang dan lain lain.
  1. Arus kas Keluar.
Pengeluaran modal yaitu setiap pengeluaran yang memberikan manfaat jangka panjang seperti pembelian gedung dan lain lain.
Setiap pengeluaran tunai yang diperhitungkan sebagai pengorbanan dalam rangka memperoleh penghasilan pada periode berjalan seperti biaya bahan, biaya pemasaran dan lain lain.
  1. Data yang diperlukan untuk kepentingan perhitungan arus kas masuk adalah :
Sales                                       Rp.
Cost of goods sold           Rp.      -
Gross profit                        Rp.
Biaya biaya                        Rp.      -
EBIT                                   Rp.
Interest                             Rp.      -
EBT                                    Rp
Tax                                    Rp.      -
EAT                                  Rp.
  1. Melakukan perhitungan cash masuk. ( CF ) dengan 2 metode yaitu dengan rumus :
    1. Pendekatan Bottom up
Rumus : CF = eat + Biaya + Interest ( 1 – tax )
    1. Pendekatan top down
Rumus : CF = EBIT ( 1 – tax ) + depreciation.
  1. Melakukan kelayakan investasi
Dengan rumus :  ARR = Rata rata eat dibagi capital outlays
Kelebihan : memperhatikan seluruh pendapatan selama umur proyek berlangsung, mudah dimengerti.
Kelemahan : Mengabaikan nilai waktu uang
Pemecahan Kasus :
Sebuah perusahaan merencanakan akan membeli 2 mesin baru untuk mengganti yang lama dalam pabriknya, dari 2 penawaran yang berbeda dengan data sebagai berikut :

KeteranganMesin JepangMesin Korea
Harga Perolehan
Nilai sisa
Umur mesin
Penyusutan
Tax
Discount Rate
Pendapatan Kotor
Tahun 1
Tahun 2
Tahun 3
Tahun 4
63.000.000
0
4 tahun
Straight Lines
40 %
15 %

7.200.000
7.800.000
8.400.000
9.000.000

60.000.000
1 500 000
4 tahun
Sum of year digit
40 %
15 %

6.600.000
7.500.000
8.100.000
8.700.000
Dari data tersebut dapat dihitung cash in flow per tahun dari masing masing mesin serta nilai ekonomis berdasarkan pay back period.
Penyusutan mesin A.
Rp. 63.000.000 : 4  = Rp.15.750.000,-
Penyusutan mesin B :
Tahun 1 = 4/10 x (Rp. 60.000.000 – Rp. 1.500.000) = Rp.23.400.000
Tahun 2 = 3/10 x Rp.58.500.000                                        = Rp.
Tahun 3 =
Tahun 4 =
1.    Cash in flow untuk mesin A

KeteranganTahun 1Tahun 2Tahun 3Tahun 4
EBT
Tax 40 %
EAT
Penyusutan
Net cash
7.200.000
2.880.000
4.320.000
15.750.000
20.070.000
   
2.    Cash in flow untuk mesin A
KeteranganTahun 1Tahun 2Tahun 3Tahun 4
EBT
Tax 40 %
EAT
Penyusutan
Net cash
6.600.000
2.640.000
3.960.000
23.400.000
27.360.000
   
3.    Nilai ekonomis berdasar metode payback period
Dengan metode payback period akan  diketahui kapan investasi terhadap proyek tersebut akan kembali.
Dari data tersebut maka dapat dihitung sebagai berikut :
Untuk Mesin A :
Investasi             : Rp. 63.000.000,-
Net cash tahun 1   : Rp. 27.360.000,- -
Sisa                      Rp.  ?  dan seterusnya.
Hal tersebut akan berlaku untuk mesin B.

Jenis-jenis Anggaran

A. Anggaran
Anggaran (Budget) adalah suatu rencana kerja yang dinyatakan secara kuantitatif aktivitas usaha sebuah organisasi (pemasaran, produksi dan keuangan). Anggaran mengidentifikasi sumber daya dan komitmen yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan organisasi selama periode yang dianggarkan.

Penganggaran adalah penciptaan suatu rencana kegiatan yang dinyatakan dalam ukuran uang. Penganggaran memainkan peran penting di dalam perencanaan, pengendalian, dan pembuatan keputusan. Anggaran juga untuk meningkatkan koordinasi dan komunikasi.

B. Jenis-Jenis Anggaran
1. Anggaran Penjualan
Anggaran penjualan merupakan suatu penentuan jumlah unit penjualan yang diperkirakan akan dijual di dalam suatu perusahaan untuk periode yang akan datang. Pada umumnya anggaran penjualan ini akan menyebutkan jumlah unit yang dijual serta harga jual per unit produk tersebut untuk masing-masing daerah penjualan yang ada. Dengan demikian, maka dari anggaran penjualan yang disusun tersebut akan dapat diketahui proyeksi penerimaan pendapatan perusahaan dari penjualan produk serta jumlah unit untuk masing-masing jenis produk yang dijual.
Untuk menyusun anggaran penjualan ini perlu disusun peramalah penjualan perusahaan dengan mempergunakan model yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi dari penjualan produk perusahaan. Beberapa model yang dapat dipergunakan untuk mengadakan penyusunan anggaran penjualan produk perusahaan ini antara lain model tren pangkat tunggal, tren pangkat dua, regresi, dan lain-lain.

2. Anggaran Produksi
Anggaran produksi dapat disusun setelah mengetahui berapa besar rencana penjualan untuk masing-masing produk. Rencana penjualan ini dapat dilihat dalam anggaran penjualan. Berdasarkan rencana penjualan yang telah tersusun tersebut serta dengan mempertimbangkan perubahan persediaan produk akhir yang ada , maka anggaran produksi akan dapat disusun.
Di dalam menyusun anggaran produksi bulanan, maka akan dikenal penerapan dari pola produksi yang ada di dalam perusahaan. Di dalam pemilihan pola produksi untuk perusahaan, maka manajeen selayaknya mempertimbangkan berbagai macam faktor yang berhubungan dengan biaya –biaya yang harus menjadi tanggungan perusahaan apabila perusahaan tersebut memilih salah satu dari pola produksi tersebut. Sebagaim mana diketahui, pola produksi ada tiga macam:
• Pola produksi konstan
Merupakan pola produksi di mana jumlah produksi dari bulan ke bulan adalah sama atau relatif sama, Walaupun terdapat perubahan penjualan produk perusahaan dari satu bulan dengan bulan yang lain.
• Pola produksi bergelombang
Merupakan pola produksi dimana jumlah produksi di setiap bulan mengalami perubahan sesuai dengan perubahan penjualan, sedangkan jumlah persediaan barang jadi adalah stabil atau tetap.
• Pola produksi moderat

Merupakan suatu pola produksi dimana jumlah produksi di setiap bulan selalu mengalami perubahan, namun perubahan ini tidak akan sebesar perubahan penjualan produk yang ada. Perubahan penjualan produk akan diserap secara bersama-sama di dalam perubahan jumlah produksi dan persediaan barang jadi. Manajemen perusahaan akan berusaha untuk mengadakan pemilihan pola produksi yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi dari perusahaan tersebut.

3. Anggaran Bahan Baku
Apabila anggaran produksi telah disusun, maka anggaran bahan baku telah dapat disusun pula. Penyusunan anggaran bahan baku akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama adalah mengidentifikasi tingkat penggunaan bahan baku atau yang disebut dengan material usage rate.
Apabila tingkat penggunaan bahan baku ini telah diketahui, maka dengan mempergunakan data anggaran produksi (dimana diketahui jumlah yang akan diproduksi selama satu periode) maka akan dapat disusun jumlah unit kebutuhan bahan baku untuk keperluan proses produksi. Setelah itu baru kemudian diperhitungkan besarnya jumlah unit kebutuhan bahan baku yang akan dibeli. Jumlah unit bahan baku yang akan dibeli akan sama dengan besarnya jumlah unit kebutuhan bahan baku untuk proses produksi ditambah atau dikurangi dengan selisih yang terjadi antara persediaan awal dengan rencana persediaan akhir dari bahan baku yang akan dipergunakan tersebut. 
Apabila persediaan awal bahab baku ternyata lebih besar dari rencana persediaan akhir, maka besarnya pembelian bahan baku akan sama dengan kebutuhan bahan baku untuk proses produksi dikurangi dengan selisih persediaan awal dengan persediaan tersebut, begitu pula sebaliknya.
Dengan dasar kebutuhan bahan baku yang akan dibeli ini maka manajemen perusahaan akan dapat memperhitungkan berapa besarnya dana yang diperlukan di dalam pembelian bahan baku untuk keperluan proses produksi dalam perusahaan yang bersangkutan
4. Anggaran Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung akan sangat perlu pula untuk dikendalikan biayanya, karena tenaga kerja langsung ini juga merupakan salah satu unsur pembentuk harga pokok produksi. Tanpa adanya pengendalian biaya tenaga kerja langsung yang baik, maka besar kemungkinan bahwa biaya tenaga kerja langsung ini menjadi lebih besar dari biaya yang sewajarnya, sehingga harga pokok produksi atau HPP akan menjadi bertambah besar. Kondisi ini tentu saja akan menurunkan daya saing perusahaan.
Untuk mengadakan perhitungan terhadap biaya tenaga kerja langsung yang dipergunakan di dalam pelaksanaan proses produksi, maka perlu ditentukan terlebih dahulu satuan dasar yang akan dipergunakan untuk perhitungan tersebut. Satuan dasar ini penting artinya karena dengan adanya satuan dasar yang dipergunakan untuk perhitungan biaya tenaga kerja langsung, maka kesimpangsiuran di dalam penyusunan biaya tenaga kerja langsung tersebut akan dapat dihindarkan. 
Pada umumnya untuk menyusun perhitungan biaya tenaga kerja langsung ini dikenal dua macam dasar perhitungan, yaitu upah per unit produk, dan upah per jam. Masing-masing sistem upah tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga sebelum mengadakan pemilihan sistem mana yang akan dipergunakan di dalam perusahaan maka perlu mempelajari terlebih dahulu sistem mana yang paling sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.
Di dalam sistem upah per unit, maka para karyawan langsung akan cenderung untu dapat menghasilkan unit produk sebanyak-banyaknya sehingga produktivitas karyawan tersebut akan cenderung meningkat. Namun upah per unit memiliki kelemahan dimana karena para karyawan cenderung untu dapat menghasilkan unit produk sebesar-besarnya, maka terkadang kualitas unit produk yang dihasilkan cenderung menurun karena menjadi terabaikan. Bila tidak diimbangi dengan pengawasan yang ketat dari pihak manajemen, maka dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar karena hilangnya kepuasan konsumen terhadap produk yang dibelinya.
Sistem upah menurut waktu (unit per jam) dapat membuat para pekerja menghasilkan unit produk yang berkualitas tinggi karena tidak terfokus pada tujuan menghasilkan produk sebanyak-banyaknya. Namun kelemahan dari sistem ini adalah karyawan cenderung untuk memperlama waktu waktu penyelesaian pekerjaan karena tidak mempengaruhi besarnya penerimaan mereka. 
5. Anggaran Biaya Overhead Pabrik
Biaya Overhead Pabrik merupakan komponen ketiga di dalam penyusunan perhitungan besarnya harga pokok produksi. Biaya overhead pabrik terdiri dari seluruh biaya yang terjadi di dalam pabrik kecuali biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. 
6. Anggaran Persediaan
Anggaran persediaan merupakan anggaran yang merencanakan secara terperinci berapa nilai persediaan pada periode yang akan datang. Pada perusahaan manufaktur persediaan yang ada terdiri dari 3 jenis, yakni persediaan material, persediaan barang setengah jadi, persediaan barang jadi.
7. Anggaran Biaya Non Produksi 
Anggaran Biaya non Produksi merupakan sruktur terinci yang tidak termasuk dalam biaya-biaya produksi. Selain itu biaya non produksi ini hanya sebagai penunjang kegiatan produksi sehingga tidak akan mempengaruhi penjualan yang sudah dianggarkan dan kebutuhan persediaan.

8. Anggaran Pengeluaran Modal 
Anggaran Pengeluaran Modal merupakan anggaran yang mengumpulkan laba sebanyak-banyaknya dengan mengeluarkan semua aktiva atau modal yang dimiliki. Oleh karena itu dalam anggaran ini harus sangat teliti dalam mengambil keputusan untuk menghindari kerugian yang sangat besar.

9. Anggaran Kas 
Anggaran Kas merupakan anggaran yang sederhana menunjukkan saldo awal kas, ditambah kas masuk yang diantisipasi lebih, dikurangi pengeluaran kas yang diantisipasi, saldo kas lebih atau kurang maupun yang akan mungkin perlu dipinjam.

10. Anggaran Rugi-Laba 
Anggaran Rugi-Laba merupakan hasil akhir dari semua anggaran operasional seperti penjualan, harga pokok penjalan, biaya komersil dan biaya adminstrasi dan keuangan diringkas dalam laporan laba-rugi dianggarkan.


11. Anggaran Neraca 
Anggaran Neraca adalah neraca yang memberikan gambaran saldo akhir aktiva, utang, dan modal yang diantisipasi jika rencana yang dianggarkan terlaksana dengan baik.

12. Anggaran Perubahan Posisi Keuangan 
Anggaran Perubahan Posisi Keuangan adalah memuat mengenai rencana perubahan aktiva, utang, dan modal perusahaan selama periode yang dianggarkan untuk mengetahui posisi keuangan suatu perusahaan

Anggaran Bahan Baku


1. Budget Kebutuhan Bahan Baku
Pengertian   Budget   ini   ialah:   Budget   yang   merencanakan   secara   lebih terperinci jumlah unit bahan mentah yang diperlukan untuk penyelenggaraan proses produksi secara periode yang akan datang, sebagai dasar untuk penyusunan budget  pembelian bahan mentah dan budget biaya bahan mentah.
Adapun bahan baku yang dipakai dalam suatu pabrik secara tradisional dibagi menjadi   bahan   langsung   dan   bahan  tak   langsung   (bahan  pembantu).   Bahan langsung  pada  umumnya  menyatakan  semua  bahan  baku  yang  menjadi  bagian terpadu dari produksi jadi dan dapat ditetapkan langsung  pada  harga  pokok  produk barang jadi.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam penyusunannya, yaitu:
1)  Budget  unit  yang diproduksi, khususnya tentang kualitas, kuantitas barang yang akan diproduksi dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang.
2)  Berbagai  standar  pemakaian  bahan  dari  masing-masing jenis bahan  mentah untuk  proses produksi yang telah ditetapkan perusahaan, yaitu :
a)   Berdasarkan data historis (pengalaman masa lalu), dengan cara membandingkan  jumlah  produk  pada  suatu  periode  dengan  jumlah  bahan  mentah   yang   dipergunakan   pada   periode   yang   sama.   Tetapi   apabila pengalaman  yang  lalu merupakan pengalaman yang kurang menguntungkan  (terjadi  pemborosan  bahan mentah) maka standar pemakaian bahan mentah  untuk periode yang akan datang merupakan standar yang paling ideal.
b)  Berdasarkan  pada penelitian khusus, yang dilakukan dengan mengukur serta meneliti beberapa produk barang jadi yang dihasilkan perusahaan, mengadakan penelitian laboratoris seperti produk obat-obatan,  kosmetik  dan  minuman,  dan  mengadakan  percobaan  proses  produksi  sambil  mengukur serta   menghitung jumlah unit bahan mentah yang digunakan   selama percobaan tersebut berlangung.
2. Budget Pembelian Bahan Baku
Adalah budget yang merencanakan secara lebih terperinci tentang pembelian- pembelian bahan mentah selama periode yang akan datang, yang berguna secara khusus  sebagai dasar untuk penyusunan budget biaya bahan mentah, penyusunan budget utang dan budget kas.
Adapun faktor-faktor  yang  mempengaruhi penyusunan budget pembelian bahan mentah ialah :\
a)  Budget  unit kebutuhan bahan  mentah, khususnya rencana tentang  jenis (kualitas) dan jumlah (kuantitas) bahan mentah yang dibutuhkan dari waktu ke waktu selama periode yang akan datang.
b)  Biaya-biaya yang harus ditanggung oleh  perusahaan  pada  setiap  melakukan  pembelian bahan mentah (set up cost). Bila setiap  kali  melakukan  pembelian bahan  mentah,  biayanya  terlalu besar,  akan  mendorong  perusahaan  untuk tidak   sering   melakukan   transaksi   pembelian   bahan   mentah,   begitu   juga sebaliknya  sehingga  perusahaan  akan  melakukan  pembelian  dalam  jumlah   yang kecil.
c)   Biaya  yang  dianggap  oleh  perusahaan  sehubungan  penyimpanan  barang  di gudang. Bila biaya-biaya dan resiko penyimpanan yang harus ditanggung cukup mahal maka akan mendorong perusahaan untuk mempunyai persediaan bahan mentah dalam jumlah yang kecil dan apabila biayanya kecil akan  mendorong perusahaan melakukan penyimpanan dalam jumlah yang besar.
d)  Fluktuasi harga bahan mentah dari waktu-waktu yang  akan  datang.  Bila  ada kecendrungan   harga   bahan   mentah   naik   akan   mendorong    perusahaan melakukan  pembelian  dalam  jumlah  yang  besar  dan  bila  harga  cenderung murah maka perusahaan akan mengurangi pembelian.
e)   Tersedianya   bahan   mentah   di  pasar.  Bilamana  bahan  mentah  tidak  selalu tersedia  dalam  jumlah  yang  tidak  banyak  di  pasar  maka  cenderung  akan  mendorong  pembelian  yang  besar,  dan jika persediaan bahan mentah sedikit  maka perusahaan akan melakukan pembelian dalam jumlah yang kecil.
f)   Modal ketja yang tersedia. Bilamana perusahaan mempunyai modal yang cukup akan  memberikan  kemungkinan untuk melakukan pembelian-pembelian bahan mentah dalam jumlah yang sangat besar, begitu juga sebaliknya.
g) Kebijaksanaan   perusahaan  di  bidang  persediaan  bahan  mentah  (inventory policy).  Bila  persediaan  bahan  mentah yang ditetapkan oleh perusahaan besar akan  mendorong  pembelian  bahan  mentah  juga  dalam  jumlah  yang  besar. Kebijaksanaan  di bidang persediaan bahan mentah dipengaruhi oleh beberapa  faktor pertimbangan:
1. Fluktuasi Produksi
2. Fasilitas tempat penyimpanan
3. Biaya-biaya yang timbul selama masa penyimpanan
4. Tingkat perputaran persediaan bahan mentah
5. Lamanya lead time (waktu tunggu)
6. Modal kerja
Pendekatan  yang  terkenal  untuk  menghitung  kuantitas  pesanan  ekonomi (EOQ) menggunakan rumus berikut ini: EOQ= √(2AO) / C
A = Kuantitas yang dipergunakan dalam setahun (unit)
O = Biaya rata-rata tahunan untuk menempatkan pesanan
C  =  Biaya  penyimpanan  tahunan  untuk  menyimpan  satu  unit  dalam  persediaan selama  satu  tahun  (misalnya,  penyimpanan,  asuransi,  laba  atas  investasi  dalam persediaan)
3. Budget Biaya Bahan Baku
Adalah  Budget  yang  merencanakan  secara  lebih  terperinci  tentang  biaya   bahan mentah untuk produksi selama periode yang akan datang, meliputi rencana  kualitas,  kuantitas, harga, waktu, bahan mentah dikaitkan dengan jenis barang jadi yang membutuhkan bahan mentah tersebut.
Budget biaya bahan mentah berguna sebagai dasar penyusunan budget harga pokok  produksi,  budget  harga  pokok  penjualan  yang  tercantum  dalam  master income statement budget bersama dengan budget upah  tenaga  kerja  langsung  dan budget biaya pabrik tidak langsung.
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam  penyusunan  budget  biaya bahan mentah antara lain:
a)  Budget unit kebutuhan bahan mentah
b)  Budget pembelian bahan mentah
c)   Metode Akuntansi (pembukuan bahan mentah) yang dipakai oleh  perusahaan, khususnya  yang  berhubungan  dengan  masalah  penilaian  bahan  mentah  yang diolah  dalam  proses  produksi.  Adapun  metode  pembukuan  bahan  mentah  itu ialah:
1.  Metode FIFO (First In First Out) : Dalam  metode  ini,  nilai  (harga)  dan  bahan  mentah  yang  diolah  lebih  awal didasarkan  pada  nilai  (harga)  bahan  mentah yang dibeli lebih awal, begitu juga  sebaliknya.
2.  Metode LIFO (Last In First out) :Nilai (harga) dan bahan mentah yang  diolah  lebih  awal  didasarkan  pada  nilai (harga) bahan mentah yang dibeli lebih akhir, demikianjuga sebaliknya.
3.  Moving Average : Yaitu   metode   yang   menganggap   nilai   (harga)   bahan   mentah   yang   diolah berdasarkan   nilai  (harga)  rata-rata  pembelian  bahan  mentah  yang  pernah   dilakukan oleh perusahaan sejak awal sampai dengan yang terakhir.
Sumber  :  Dra.NARUMONDANG BULAN SIREGAR MM Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi
Universitas Sumatera Utara

Anggaran Kas

Estimasi Budget Kas (Anggaran Kas)
Pengertian Budget Kas (Anggaran Kas)
Budget kas adalah skedul tentang estimasi terhadap posisi kas, baik berupa penerimaan kas maupun pengeluaran kas untuk suatu periode tertentu pada masa yang akan datang.

Anggaran kas adalah estimasi terhadap posisi kas untuk suatu periode tertentu yang akan datang. Hal ini penting karena berkaitan dengan likuiditas perusahaan, juga akan diketahui kapan perusahaan mengalami defisit dan kapan surplus.

Budget kas dapat disusun untuk periode bulan/ kuartal. Pada dasarnya budget kas dibedakan menjadi 2, yaitu:
  1. Estimasi penerimaan-penerimaan kas yang berasal dari : hasil penjualan tunai; piutang yang berkumpul; penerimaan bunga devident; hasil penjualan aktiva tetap, dan penerimaan-penerimaan lain.
  2. Estimasi pengeluaran kas yang digunakan untuk : pembelian bahan mentah; pembayaran utang-utang ; pembayaran upah buruh; pengeluaran untuk biaya penjualan, premi asuransi; pembelian aktiva tetap dan pengeluaran-pengeluaran lain.

Tujuan utama budget kas, yaitu:
  1. Menunjukkan kemungkinan posisi kas sebagai akibat dari operasi perusahaan
  2. Identifikasi kemungkinan kekurangan atau kelebihan kas
  3. Menentukan perlunya pembelanjaan atau tersedianya kas yang menganggur untuk investasi
  4. Mengkoordinasikan kas dengan jumlah modal kerja, penjualan, investasi, dan utang
  5. Menentukan dasar yang sehat untuk pengendalian posisi kas secara terus menerus

Tujuan penyusunan budget kas bagi pimpinan perusahaan yaitu :
  1. Kemungkinan posisi kas sebagai hasil rencana operasinyaperusahaan
  2. Kemungkinan adanya surplus dan defisit karena rencanaoperasi perusahaan
  3. Besarnya dana beserta saat/kapan dana tersebut dibutuhkan untuk menutup defisit kas
  4. Saat kapan kredit dibayar kembali.

Pendekatan Penyusunan Budget Kas yaitu :
Pendekatan penerimaan dan pengeluaran kas (cash receipt and disbursements approach) dan pendekatan akuntansi keuangan (financial accounting approach atau income statement approach).
Pendekatan penerimaan dan pengeluaran kas
Sumber-sumber penerimaan kas muncul dari transaksi-transaksi seperti penjualan tunai, pengumpulan piutang dagang dan piutang wesel. Bunga yang diterima dari investasi, penjualan aktiva tetap, dan penghasilan lain-lain. Pengeluaran kas muncul dari berbagai pembayaran tunai, misalnya pembelian bahan baku, upah tenaga kerja langsung, biaya-biaya tunai (penyusutan tidak termasuk), pembelian aktiva tetap untuk periode yang bersangkutan, pajak, dan pembayaran deviden.


Pendekatan akuntansi keuangan
Pendekatan akuntansi keuangan banyak digunakan oleh perusahaan terutama untuk penyusunan budget kas jangka panjang. Pendekatan ini tidak memerlukan data terlalu rinci. Pada pendekatan ini, penyusunan aliran kas mulai dari laporan rugi laba; kemudian laporan tersebut disesuaikan dengan cara mengubah dari accrual basis menjadi cash basis.

Transaksi yang menyebabkan meningkat atau menurunnya jumlah kas dapat dipolakan sebagai berikut:
Sumber – sumber kas (Penambahan)
Penggunaan kas (Pengurangan)
TR>TC = Laba
akumulasi penyusutan
penambahan : hutang jk pendek, hutang jk panjang
bertambahnya equity : modal disetor, cadangan, laba ditahan
TC>TR = Rugi
pembelian aktiva tetap
berkurangnya : hutang jk pendek, hutang jk panjang
berkurangnya equity : modal disetor, cadangan, laba ditahan


Sumber :

Buku dasar – dasar pembelanjaan perusahaan edisi 4. Prof. Dr. Bambang Riyanto dosen fakultas ekonomi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Anggaran Variabel


Variabel Costing (Biaya variabel) adalah biaya yang jumlahnya berubah sejalan dengan perubahan volume kegiatan, tetapi biaya variabel per unit tidak berubah walaupun volume kegiatan berubah. Sedangkan biaya tetap adalah biaya yang jumlahnya tetap dalam kisaran volume kegiatan tertentu, tetapi biaya tetap per unit berubah bila volume kegiatan berubah.
Pemisahan Biaya Semi Variabel dalam metode penentuan harga pokok variabel hanya terdapat dua macam biaya yaitu, biaya tetap dan biaya variabel. Tetapi dalam kenyataan terdapat biaya semi variabel, yaitu biaya yang jumlahnya berubah tidak secara proporsional dengan perubahan volume kegiatan. Ada beberapa metode pemisahan biaya semi variabel, yaitu :
1. Metode perkiraan langsung, metode ini dipergunakan apabila perusahaan mempunyai data historis, tetapi tidak dapat dipakai untuk masa yang akan datang atau perusahaan baru berdiri sehingga belum mempunyai data.
2. Metode standby cost (biaya berjaga), metode ini dalam dunia nyata sulit diterapkan, karena tidak beroperasinya pabrik selama menjaga biaya tetap merugikan perusahaan.
3. Metode korelasi, metode ini menitikbertakan pada data masa lampau dengan menggunakan salah satu alat analisis statistik. Metode ini dapat disajikan secara grafik dan matematis.
4. Metode high low point (titik tertinggi dan titik terendah)
Penyusunan Anggaran variabel Penyusunan anggaran variabel menggunakan metode penentuan harga pokok variabel (PHPV), tetapi sebagai perbandingan disusun juga anggaran yang menggunakan metode penentuan harga pokok penuh (PHPP). Dalam penyusunan Anggaran variabel, maka dimulai dengan anggaran penjualan, anggaran ini dibuat dengan cara harga jual per unit produk jadi dikalikan penjualan dalam unit. Setelah menyusun anggaran penjualan selanjutnya dapat disusun anggaran persediaan barang jadi akhir, persediaan barang jadi akhir dihitung dengan cara persediaan barang jadi akhir dalam unit dikali dengan harga pokok barang per unit. Setelah menyusun persediaan barang jadi akhir dapat disusun anggaran biaya bahan baku (BBB). Selain biaya bahan baku, ada juga anggaran biaya tenaga kerja langsung, anggaran biaya overhead pabrik variabel, dan anggaran biaya overhead pabrik tetap. Setelah menyusun anggaran tersebut kemudian dapat disusun anggaran persediaan barang dalam proses akhir, anggaran ini dapat dihitung dengan cara persediaan dalam proses akhir dalam unit dikalikan dengan tingkat penyelesaian masing-masing biaya (harga pokok) per unit. Kemudian menyusun anggaran laporan laba rugi.
Anggaran variabel mempunyai manfaat yang sangat penting bagi manajemen dalam melaksanakan fungsinya, namun mempunyai kelemahan :
 Biaya variabel dan biaya tetap tidak selalu dapat dipisahkan secara tepat karena dalam kenyataannya terdapat biaya semi variabel.
 Dalam kenyataan biaya variabel per unit dalam suatu periode mudah berubah, sedangkan syarat berlakunya analisis penentuan harga pokok variabel, antara lain biaya variabel per unit tidak berubah selama periode yang dianalisis.
 Penentuan harga pokok variabel tidak dapat digunakan untuk laporan pihak eksternal.
METODE PENENTUAN VARIABILITAS BIAYA
Sesuai dengan konsep variabilitas biaya, maka biaya dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
a. Biaya tetap (fixed coct)
Adalah biaya yang tidk berubah karena perbahan output yang produktif, sehingga jumlahnya tetap konstan selama periode tertentu dalam relevant range aktivitas.
b. Biaya variable (variable cost)
Adalah biaya yang berubah searah dan sebanding dengan perubahan output
c. Biaya Semi Variabel (semi tetap)
Adalah biaya yang berubah karena perubahan output, akan tetapi perubahan tersebut tidak sebanding.
Kriteria pemilihan ukuran output yang harus dipertimbangkan, antara lain :
- dasar aktivitas harus mengukur fluktuasi output yang menyebabkan biaya berubah

ANGGARAN VARIABEL
- dasar aktivitas yang dipilih boleh dipengaruhi, tetapi harus sekecil mungkin, oleh variable selain output
- dasar aktivitas harus dapat dicapai tanpa menimbulkan biaya pencatatan yang tidak sepantasnya
Metode Penentuan Variabilitas Biaya, ada tiga macam :
a. Metode Taksiran Langsung
Metode ini pada dasarnya hanya dipakai pada keadaan tertentu, di mana perhitungan unsure-unsur biaya secara kuantitatif tidak dapat dilakukan, misalnya :
- suatu bagian baru saja didirikan
- dilakukannya kegiatan yang tidak rutin
- mulai dipakainya mesin baru
- terjadi perubahan pada metode produksi
- terjadi perubahan kebijaksanaan manajemen
b. Metode Titik Tertinggi dan Terendah (High and Low Point Method)
Metode ini cenderung lebih bersifat kuantitatif, yang berdasarkan perhitungan tingkat biaya pada dua macam tingkat kegiatan tertentu.
Misal :
Biaya (dianggarkan) Tingkat kegiatan
Pada titik tertinggi Rp 28.000.000 12.000
Pada titik terendah Rp 22.000.000 9.000
Selisih Rp 6.000.000 3.000
Biaya variable / unit = Rp 6000000 : 3.000 = Rp 2.000/unit
Titik Tertinggi Titik Terendah
Rp 28.000.000 Biaya total Rp 22.000.000
Unsur biaya variabel Rp 24.000.000 Rp 18.000.000
Unsur biaya tetap Rp 4.000.000 Rp 4.000.000
c. Metode korelasi
Pada metode korelasi dapat disajikan dalam dua cara yaitu :
- cara grafis
- cara matematis
Persamaan Y = a + bx, dimana a menunjukkan komponen biaya tetap sedangka b merupakan biaya varibel per unit. Apabila digunakan rumus dasar adalah sebagai berikut :
Y = a + bX
Σ Y = n.a + b. Σ X
Σ XY = a. Σ X + b. Σ X²

BENTUK ANGGARAN VARIABEL
Secara umum dapat dikatakan bahwa tujuan utama penyusunan anggaran variable adalah untuk pengawasan biaya-biaya pada bagian tertentu di dalam perusahaan. Untuk keperluan tersebut anggaran variable dapat ditampilkan dalam bentuk :
a. Bentuk Formula
Budget variable yang disusun dalaam bentuk ini memberikan gambaran yang jelas unsure tetap (biaya tetap per bulan) dan unsure varibel (biaya variable per output) yang dikandung oelh setiap pos biaya.
b. Bentuk Tabel
Pada anggaran variable bentuk tabel dapat dilihat besarnya biaya (total) pada masing masing pos, pada berbagai tingkat output.
c. Bentuk Grafik
Anggaran varibel yang ditampilkan dengan bentuk grafik, sehingga secara jelas digambarkan hubungan antara output dengan biaya yang terjadi pada berbagai tingkat output.